Zaman sekarang fenomena pacaran memang merajalela. Bukan hanya dikalangan orang dewasa, bahkan anak remaja sudah berani melakukan hal itu. Lantas bagaimana jika mereka pacaran menjelang Ujian Nasional? Apakah baik dampak yang ditimbulkan atau justru mengundang banyak keburukan bagi persiapan ujian? Semua konsekuensi tentu saja ada bagi yang memilih pacaran ataupun tidak, terlebih jika pacaran menjelang Ujian Nasional pasti banyak menyita waktu belajar, waktu untuk diri sendiri bahkan waktu untuk keluarga.
Pacaran memang tidak selamanya merajuk kepada hal negatif. Contohnya saja kita dapat menjadikan pacar kita sebagai inspirasi dan dorongan psikis agar kita giat belajar karena kita malu jika mendapat nilai jelek, tidak naik kelas, atau tidak lulus ujian. Hal tersebut tentu saja membuat kita lebih giat dalam belajar untuk mendapatkan nilai yang memuaskan dan terlihat baik dimata dia.
Tetapi pada kenyataan yang ada saat ini justru pacaran memiliki dampak yang sangat buruk, terutama bagi pelajar yang tengah memperisapkan diri untuk ujian nasional. Mengapa demikian? karena jika kita memiliki pacar tentu saja waktu kita belajar menjadi kurang optimal, pikiran kita lebih cenderung ingin cepat selesai belajar atau membaca buku agar bisa berbalas pesan singkat dengan pacar kita, dan pada akhirnya semakin lama semakin sempit waktu kita untuk belajar yang lebih mengerikan lagi kita lebih mengutamakan pacaran dibandingkan belajar padahal ujian nasional sudah didepan mata. Menurut survei kecil yang saya lakukan 8 dari 10 orang dari mereka tidak terlalu antusias dengan pacaran dikala mendekati ujian, banyak hal positif yang masih bisa dikerjakan selain pacaran seperti mengikuti les, membantu orang tua, atau mencari informasi seputar universitas. Memang benar pacaran pada saat-saat seperti ini bukanlah hal yang tepat, bayangkan saja disaat teman-teman seperjuangan sibuk untuk mempersiapkan masa depan kita malah asyik dengan pacar yang belum tentu menjadi pendamping kelak, ketika mereka sibuk mengejar karir yang cemerlang untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga kita malah asyik menghabiskan orang tua dengan mengajak jalan-jalan pacar. Tentu saja itu bukan hal yang diinginkan orang tua, melihat anaknya tidak sungguh-sungguh dalam menata masa depan, pastinya orang tua akan sangat kecewa dengan hal yang kita lakukan, membuang-buang waktu muda untuk hal yang tidak baik lebih tepatnya. Terlalu rugi membuang waktu dimasa muda untuk hal yang tidak penting, kita tentu akan menyesal kelak jika kita tidak sungguh-sungguh belajar dan menata karir pada saat ini, dimana teman-teman kita yang dulu belajar dengan sungguh-sungguh telah sukses sedangkan kita hanya menjadi orang biasa saja, tentu itu bukan hal yang kita inginkan.Seperti yang dikutip oleh penulis novel Tere Liye "
Jomblo
tidak akan membuat kalian mati kelaparan, meski tidak ada yang mengingatkan "sudah makan apa belum, beb?". Jomblo juga tidak akan membuat
kalian lalai shalat, meski tidak ada yang mengingatkan, "sudah shalat
belum, sayang?". Juga tidak akan membuat kalian bangun kesiangan, gara-gara
tidak ada yang membangunkan lewat sms atau telepon, "sudah bangun belum, hubby?".
Apalagi, tidak akan membatalkan kalian juara kelas, gara-gara tidak ada yang mengingatkan besok ulangan umum, "udah belajar belum, beb?".
Tenang
saja. Bersabar. Fokus saja belajar, merintis karir, pekerjaan. Besok
lusa kalau ketemu jodohnya, menikah, kalian bisa merasakan hal-hal tersebut
lebih berkah dan penuh ibadah. Jangan tertipu oleh ilusi keinginan
sesaat punya pacar" tentu saja dengan membaca kutipan tersebut kita bisa banyak belajar menikmati masa muda dengan merintis karir, mencari banyak prestasi, menjalin hubungan relasi dengan berbagai kalangan, dan fokus untuk membahagiakan orang tua.
Pada intinya, pacaran secara hukum islam sangat di haramkan karena mendekati zina, terutama bagi remaja seperti kita yang harus bersiap menata masa depan tentunya pacaran itu bukan hal positif yang bisa membangkitkan prestasi kita, tetapi bukan apatis terhadap pacaran, menyukai seseorang tentu saja boleh hanya saja kita jadikan orang tersebut sebagai penyemangat dalam belajar dan mengejar prestasi. Penyemangat itu bukan hanya seorang pacar, orang tua dan tekad untuk sukses bisa dijadikan penyemangat untuk menghasilkan masa depan gemilang. Jadi, apa masih zaman pacaran menjelang ujian?